was successfully added to your cart.

Tag

coffee

Membaca Sejarah Kopi: dari Afrika hingga Asia

By | Article | No Comments

PADA awalnya, manusia mendapatkan buah kopi, hanya dengan cara kambing dan gembalanya mengunyah daun dan buah. Kemudian, daun dan buah direndam ke dalam air, seperti teh. Kopi juga ditumbuk menjadi pasta dan dicampur dengan lemak hewan dan dimakan.

Oleh: Muhammad Iqbal

Namun, tak sampai abad ke enam belas, buah kopi mulai dipanggang, ditumbuk menjadi bubuk, dan dicampur dengan air untuk menghasilkan minuman yang kita kenal sebagai “kopi”.

Kopi dapat diterima oleh para ulama, karena bubuk itu bisa membuat mereka terjaga–melalui doa-doa mereka. Kopi juga dikabarkan sebagai obat yang bisa “membantu pencernaan, menyembuhkan sakit kepala, batuk, konsumsi, basal, asam urat, dan penyakit kudis, serta mencegah keguguran.” Jadi, kopi dimulai sebagai minuman khusus, digunakan dalam cara ritual dalam ruang ritual.

Di kalangan orang kaya, kopi ditaruh di tempat yang terpisah dari rumah. Hanya orang dari kelas sosial rendahlah yang pergi ke kedai kopi. Kopi segera menjadi komoditas internasional. Dan, sampai hampir 1900-an, biji kopi Arabika menjadi primadona.

Kopi adalah tanaman atau semak yang berasal dari Afrika. Kopi pertama kali didomestifikasi di Arab, dan secara masif dikonsumsi di Eropa dan Amerika Utara. Kemudian berkembang di Asia dan Amerika Latin. Kopi, lebih dari tanaman lain, telah diikat bersama-sama oleh orang kaya dan miskin.

Bermula sebagai komoditi mewah, kopi telah menjadi kebutuhan yang sama bagi konsumen dan produsen. Dari segi nilai, adalah salah satu komoditi terkemuka yang diperdagangkan secara internasional hingga saat ini. Dan mungkin telah menjadi produk pertanian yang diperdagangkan secara internasional yang paling penting dalam sejarah, selain rempah-rempah.

Medium to dark roasted bean Robusta Sidikalang, yang diproses secara natural

Kopi, bagaimanapun juga, menjadi salah satu tanaman yang paling bertentangan dan kontroversial, sebagaimana minuman beralkohol. Ia telah dikaitkan dengan agama dan sekulerisme, kuno dan borjuis, proletar dan intelektual, perbudakan dan kebebasan, kaum buruh, dan tentu: para penggemarnya.

Kopi juga telah dituduh sebagai biang kerok penghancuran masyarakat dan merusak negara-negara berkembang.

Manusia pertama pengkonsumsi kopi telah dikaburkan oleh waktu. Tapi lewat legenda nan berlimpah, seperti pada abad kesembilan masehi, gembala kambing Etiopia yang mencicipi buah pahit yang ditinggalkan domba-dombanya, atau sekitar pedagang Arab, dan bahkan biarawan Kristen, yang pertama kali mengakui kebajikan kopi.

Arabika Ethiopia

Kopi Arabika ditemukan pertama kali oleh penduduk pribumi Etiopia, namun buah ini senyatanya sebagian besar diabaikan, hingga kemudian orang Arab Yaman menggunakannya untuk menyeduh minuman. Walau beberapa orang Afrika minum kopi yang terbuat dari buah segar, selain dipanggang dengan mentega cair, namun di beberapa daerah, kopi langsung dikunyah.

Kopi Ethiopia (majalah otten)

Karena tidak adanya tradisi lokal atas kopi Arabika yang dapat dikembangkan lebih luas, akhirnya membuat kopi ini menjadi tanaman eksotis, tumbuh nun jauh dari tanah kelahirannya. Memang, hanya pada abad keduapuluhlah produksi kopi Afrika menjadi substansial.

Kelompok sufi mistikus Shadhzli, di sebelah timur Etiopia (Yaman), tampaknya telah menjadi salah satu pioner untuk merangkul tanaman yang berkeliaran ini. Mereka meracik ramuan untuk menghasilkan visi memberikan jalan kepada Sang Khalik, dan mereka juga ingin tetap terjaga selama ritual sufistik di malam panjang, saat mereka berusaha untuk lebih bergairah dalam peribadatan.

Jadi, dari awal, kopi dimanfaatkan, sebagai obat sekaligus minuman sosial. Asal mulanya, kopi lebih banyak berbicara  tentang efek fisik dari rasa atau keberhasilan dalam memuaskan dahaga. Seorang syekh dari tarekat sufi yang tinggal di sebuah kota bernama Mocca (Afrika), pada akhir abad empatbelas atau awal kelimabelas, mungkin yang pertama untuk memikirkan suatu teknik untuk memanggang, menggiling, dan menyeduh biji kopi.

Kopi Arabika pertama kali didomestifikasikan di pegunungan utara Yaman, dan selama dua setengah abad, praktis Yaman memegang monopoli dunia produksi kopi. Tetapi, menarik untuk dicatat bahwa di Yaman, banyak orang lebih suka mengunyah kacang atau menyeduh teh dengan sekam daripada kopi Arabika, dan sampai hari ini di Yaman, orang  tidak banyak meminum kopi. Mereka lebih memilih teh atau mengunyah semak, khat, yang tidak hanya mengisi peran sosial kopi, tetapi menempati banyak lahan yang cocok untuk berbudidaya kopi.

Pohon kopi dari Siborong-borong Sumatera Utara (dok Aloya)

Para pelancong Eropa pertama kali bertemu kopi di Kekaisaran Ottoman pada abad ke limabelas, namun minuman ini tidak menyebar ke Barat selama hampir duaratus tahun. Budaya muslim ini tiba-tiba menjadi hingar-bingar di Eropa sebagai bagian dari kehidupan kelas menengah yang meningkat.

Mereka mencari pusat baru sosialisasi di luar pengadilan aristokrat nan eksklusif. Kedai Kopi menjadi semacam ruang publik yang muncul, di mana orang bebas menyuarakan opini yang objektif ihwal bisnis, seni, dan politik. Ini diskusi intelektual baru yang penuh gairah; dan pada gilirannya menentang monarki absolut dan menjadi forum penting bagi pemerintahan yang demokratis.

Diperkenalkan ke Inggris sekitar 1650, pada era pengaruh puritanisme yang memuncak, kopi dengan cepat menggantikan bir di kalangan pengusaha, yang berkumpul tiap pagi. Selama mengepul cangkir kopi, mereka membaca koran dan melakukan transaksi.

Kedai kopi Edward Lloyd di London, misalnya, adalah milik seorang pedagang dan kapten kapal yang menarik, yang bertukar informasi ihwal dunia kemaritiman, dan kemudian melahirkan sebuah perusahaan asuransi terkemuka. Kaum jurnalis memiliki kedai-kedai kopi favorit mereka sendiri, dan koran yang mereka tulis, lalu dibaca publik, selalu ditemani lebih dari secangkir kopi Jawa. Kedai kopi di kota-kota bisnis berlangganan surat kabar, sehingga menyebarkan berita dan politik diskusi di seluruh penjuru negeri.

espresso

Pada abad kedelapan belas, teh secara bertahap dikalahkan kopi sebagai minuman nasional, didorong oleh kampanye iklan yang gencar dari British East India Company. Kedai kopi menawarkan tempat pertemuan bagi filsuf abad percerahan, Voltaire, Diderot, dan beberapa sastrawan yang kurang terkenal dari tanah Perancis.

Selama hari-hari bersejarah tahun 1789, Camille Desmoulins dan rekan pemimpin revolusionernya, berkumpul sambil minum kopi di gedung beratap Palais Royal, untuk merencanakan serangan terhadap Bastille dan penggulingan kediktatoran (Peristiwa Revolusi Perancis).

Kopi mendorong gagasan

Sepanjang sejarahnya, kopi telah mendorong gagasan, debat, perdagangan, dan pembangunan, bahkan orang menjadi mati rasa untuk rutin dan mengekspos serta mengeksploitasinya. Kopi telah membantu untuk menumbangkan budaya, sistem sosial, dan pemerintah.

Grean bean Longberry dari Bener Meriah Aceh

Di negara-negara pengkonsumsinya, kopi berubah dari nilai mistis dan merkatilis, untuk menjadi salah satu produk borjuis yang paling diperdagangkan di seluruh dunia. Kedai Kopi dioperasikan sebagai pusat gaya hidup borjuis untuk sastrawan dan pengusaha, serta tempat-tempat pertemuan bagi mereka yang gelisah akan perkembangan isu-isu politik aktual. Kopi menjadi bahan bakar era industri.

Di Amerika Latin, permintaan kopi yang tinggi oleh Eropa dan Amerika Utara dimulai pertama kali lewat intensifikasi perbudakan dan kemudian, di pelbagai tempat, dengan perampasan tanah desa, pengusiran penduduk pribumi, dan tenaga kerja paksa. Meskipun ada para pekebun besar, ada juga banyak petani kecil.

Kisah perihal kopi jelas hanyalah salah satu dari keanekaragaman. Geografi, sejarah, dan perlawanan lokal dikombinasikan untuk menciptakan pelbagai pengaturan sosial. Menelusuri sejarah kopi adalah untuk melacak jalur ekonomi dunia selama enam abad terakhir.

Dari monopoli Asia, untuk produk kolonial Eropa, juga untuk komoditas global tumbuh di empat benua, kopi telah dikaitkan dengan produsen dan konsumen dalam kawasan yang berbeda, terbelakang dan berkembang, bebas dan diperbudak, orang kaya dan orang miskin, dan kaum borjuis dan kuno.

Konon, suatu hari seorang syekh sufi, duduk di tempat teduh di Mocca, tak pernah tahu kekuatan global apakah yang sedang bergerak ke arahnya; ketika dia meneguk secangkir kopi pertamanya yang mengepul itu.

sumber: https://alif.id/read/m-iqbal/membaca-sejarah-singkat-kopi-b207005p/

Kopi setelah dikemas

Jangka Waktu Terbaik Menyimpan Kopi

By | Article | No Comments

Kapan saat terbaik minum kopi? Pagi, siang, sore, atau malam? Itu sih soal selera dan kebutuhan serta kondisi biologis masing-masing orang. Pasti pecinta kopi sudah paham waktu terbaik menyeruput kopi. Namun….., obrolan ini bukan tentang topik itu. Ini tentang jangka waktu terbaik bagi kopi untuk dikonsumsi, sebelum aromanya pudar.

Jika kopi dikonsumsi terlalu lama sejak diroasting,  maka aromanya akan berkurang dan rasanya menjadi agak hambar.  Aloya pernah mencoba kopi yang diroasting tiga bulan sebelumnya.  Walaupun  tersimpan di dalam wadah tertutup  rapat,  aromanya sudah tidak harum lagi.  Saat diseduh pun rasanya cenderung datar.
Kami pun menyimpulkan,  kesegaran kopi sangat berpengaruh pada rasa.
Namun, mengonsumsi kopi langsung setelah diroasting juga memebuat rasanya tidak maksimal.  Mengapa?  Karena kopi sedang dalam proses pelepasan gas karbondioksida dan gas lain,  atau biasa disebut proses degassing.  Proses degassing ini berlangsung beberapa jam setelah diroasting. (lihat artikel sebelumnya mengenai degassing).

Jadi,  kapan waktu terbaik menikmati kopi pascaroasting?  Banyak faktor yang memengaruhinya,  termasuk jenis kopi. Akan tetapi, secara umum waktu ideal mengonsumsi kopi adalah 4-21 hari setelah diroasting.

Pada beberapa percobaan dan pengalaman banyak orang,  kopi akan mengeluarkan rasa terbaik di dalam rentang waktu tersebut.  Setelah melebihi waktu tersebut,  biasanya terjadi penurunan aroma dan rasa.Beberapa produk kopi mencantumkan tanggal roasting pada kemasannya sebagai acuan untuk konsumen.  Tetapi ada juga yang tidak mencantumkan tanggal roasting,  sebaliknya yang ditulis adalah tanggal kadaluwarsa saja.  Pada umumnya, tanggal kadaluwarsa  ini dijumpai pada produk kopi yang dijual di supermarket.

Tanggal kadaluwarsa itu juga penting, khususnya bagi petugas dari dinas kesehatan dan atau Badan POM yang bertugas memantau itu. Wajar, karena mengonsumsi barang setelah kadaluwarsa tentulah berbahaya bagi kesehatan. Tubuh bisa keracunan. Produk konsumsi yang disetok memang harus mencantumkan tanggal kadaluwarsa.

Aloya adalah produk kopi yang “menjual” kesegaran, sehingga hal yang terpenting adalah tanggal roasting. Kami baru meroasting kopi setelah konsumen memesannya. Bagi pecinta kopi, 200 gram kopi dalam kemasan kami akan habis dalam waktu beberapa pekan saja. Bagi pecinta berat kopi, satu kaleng kopi Aloya akan habis dalam dua pekan bahkan satu pekan. Kami jamin.
Kecuali kami menyetok, kami akan membubuhkan tanggal kadaluwarsa. Namun, jika konsumen membutuhkan tanggal kadaluwarsa, dengan senang hati kami akan membubuhkannya.
(Sumber: perfectdailygrind)

Profil Kopi “Single Origin” Aloya Coffee

By | News | No Comments

Banyak calon pelanggan yang bertanya mengenai rasa kopi tertentu,  juga perbedaan varian kopi yang satu dengan yang lain.  “Rasanya sepertinya sama saja,  pahit”. Ya iyalah.  Kopi.  Ya pahit.  Hehehe. Berikut ini profil kopi kami.  Mudah-mudahan membantu.

1. Arabika Gayo

Asal        : Bener Meriah

Ketinggian    : 1300 mdpl

Proses        : Semi Wash

Body        : Medium

Acidity        : Mild

Profil Rasa    : Coklat, Rempah, Earthy

Kopi Aloya Gayo berasal dari daerah Bener Meriah, Aceh. Daerah ini mempunyai ketinggian sekitar 1.300 mdpl. Kopi Gayo adalah salah satu jenis kopi Indonesia yang sudah dikenal di seluruh dunia. Kopi ini mempunyai rasa rempah dan coklat serta long aftertaste.

2. Arabika Simalungun

Asal        : Saribudolok

Ketinggian    : 1.400 mdpl

Proses        : Semi Wash

Body        : Medium – Full

Acidity        : Mild

Profil Rasa    : Brown Sugar, Herbal, Fruity

Kopi Aloya Simalungun berasal dari Saribudolok, Kabupaten Simalungun. Daerah dengan ketinggian 1.400 mdpl ini letaknya tidak jauh dari Danau Toba. Kopi ini mempunyai cita rasa hebal dan fruity dengan tingkat keasaman sedang.

Read More

Proses Degassing Seusai Roasting

By | Article | No Comments

Degassing adalah proses pelepasan gas. Ketika kopi diroasting, terbentuklah gas-gas dari dalam biji. Seusai roasting, gas yang sebagian besar adalah karbondioksida (CO2) pun mulai mencari jalan keluar. Dalam waktu beberapa hari, gas-gas itu telah meninggalkan kopi.

Oleh karena itu, kopi yang sudah diroasting dan digrinding perlu didiamkan dulu selama beberapa waktu untuk proses degassing sebelum dimasukkan ke dalam kemasan. Jika tidak, kemasan plastik bisa menggembung dan pecah. Duaarrrr…..

Read More

Yuk Minum Kopi Mandheling

By | Article | No Comments

Suatu hari saya menawarkan Kopi Aloya kepada kawan Batak saya, marganya Siagian. Kami sore itu berbincang di kantin mahasiswa universitas negeri di Jakarta. “Kopinya apa saja?” tanya Bang Siagian. “Banyak, mostly dari Sumatera, bagian Batak, he-he-he. “Ada Mandheling, lalu ada….”. “Mandheling kan bukan Batak, ha-ha-ha,” potong Bang Siagian.

Ouch, salah omong. Saya pun ikut tergelak bersama Bang Siagian.

Read More

Mari Mengenal Proses Pasca Panen: Semi Wash

By | Article | No Comments

Kopi bubuk siap seduh yang ada di cangkirmu, atau roasted bean di grindermu, adalah hasil akhir dari serangkaian proses panjang. Proses itu melibatkan banyak orang dengan sejumlah peran. Petani, tentu saja adalah garda depan di jagat perkopian, sejak menanam bibit kopi, menunggunya tumbuh, memanen, hingga memroses pasca panen.

Singkat cerita, setelah buah kopi atau cherry coffee dipanen, ada beberapa cara untuk memrosesnya sebelum jadi green bean siap roasting. Proses pasca panen itu di antaranya natural, full wash, semi wash, dan honey.

Read More